orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya (Pramoedya Ananta Toer)

About Me

My photo
seorang guru, peminum kopi, pembaca buku yang suka berjalan kaki

Anda pengunjung ke:

Tuesday, June 7, 2011

Syair sang penyaksi

merajut aksara (membaca Indonesia) dalam syair sang penyaksi:

Di depan rumah rakyat~gedung-gedung tinggi bertingkat
ada pula kardus-kardus tempat berteduh
semoga masih berkibar bangga sang saka di istana

ada bocah bernyanyi diantara himpit kendaraan
situa meminta-minta
negeri makmur, aman-sentausa
bocah-bocah teriak merdeka (meski) tak sekolah

wajah-wajah hipokrit menghias ruang pendidikan
bangku sekolah jadi barang dagangan
dan yang berkepentingan hanya termangu diam
diam, tak terpikir sebentuk gerakan
sebentuk dobrakan

dengar
dengarlah nyanyian tuan besar
berkelakar tentang cinta
merayu pelacur dengan Hak Asasi Manusia
sembari melecehkan kemanusiaan
dan
dari jalanan terdengar: hymne kebingungan
tanya tak lagi melahirkan jawab
hanya menghujamkan tanya-tanya lagi

birokrat berselingkuh dengan pengusaha
menjual harga diri bangsa
keadilan sosial milik siapa?
Jika yang bersalah, masih mampu pergi tamasya
karenanya: penyair tumpahkan kata

Monday, June 6, 2011

Bidik!


membidik rembulan-memadamkan cahaya
ada semacam keheningan pada malam yang akrab dengan hitam


pada selembar cermin coba mengenal diri


ini gambarku: hanya bayang, tak kukenal
hanya bayang yang mengapung diantara lingkar kenangan

bayang wajah penuh luka

bayang wajah pernah dinista-hina


membidik rembulan
ingin kupadamkan

mengikuti bayang gambarku
sanggupkah?

Wednesday, June 1, 2011

ini dendam, tuan

bersulang atas kemenangan tuan,
selamat, tentu patut ku ucap

kemenangan
sementara milik tuan
hanya sementara
bukan tuk selamanya

rayakan dengan tawa
yang terdengar cukup resah

tentu
tuan, kemenangan itu berbuah dendam
mengarah pasti kejantung tuan

bersabarlah, belum sepenuhnya

seberapa jauh jalan yang kau tempuh?

jangan tumpah dulu air mata,
air mata hanyalah ungkapan
ketidak sanggupan

kadang, berat mendaki kenyataan
kadang, hanya terkadang
tidak sepenuhnya

bersabarlah dalam kesadaran:
kesalahan tak patut dipertahankan
meski
kadang berat tuk mengakuinya
tapi hanya terkadang
tidak sepenuhnya

bersabarlah,
tunggu segala mereda
kegagalan memanglah kenyataan
kadang menyakitkan
terkadang, hanya terkadang
belum sepenuhnya

tunggulah,
nantilah
segala segera mereda
kita
kan kembali bersua
dalam teduh damai asmara