malam di tepi pegunungan
dimana biasa kita lihat kabut turun menyisir hutan
kawan,
pada malam senantiasa hitam
selalu kau tuturkan
kata-kata yang membakar
sekedar menghindar dari bekunya malam
kawan,
'kata-katamu seperti sungai api
membakar otak dan hatiku'
About Me
- Yoehan Rianto Prasetyo
- seorang guru, peminum kopi, pembaca buku yang suka berjalan kaki
Anda pengunjung ke:
Sunday, March 27, 2011
Saturday, February 26, 2011
cukuplah
nona...
cukuplah sekali
nona redupkan hati dengan caci
kelak...
ataupun hari ini
diri tak lagi sudi
kembali berbagi
cukuplah sekali
nona redupkan hati dengan caci
kelak...
ataupun hari ini
diri tak lagi sudi
kembali berbagi
Friday, December 31, 2010
buritan kedai jalanan
sruput...
cangkir diam
ada aroma sejarah yang ditafsirkan
deandels
bagaimana menulisnya?
mungkin caranya sama
seperti kerja paksa
kucelupkan
darah juang terdengar
(angkat cangkir)
"cheers" di buritan kedai jalanan
cangkir diam
ada aroma sejarah yang ditafsirkan
deandels
bagaimana menulisnya?
mungkin caranya sama
seperti kerja paksa
kucelupkan
darah juang terdengar
(angkat cangkir)
"cheers" di buritan kedai jalanan
Saturday, December 25, 2010
mawar
kukabarkan padamu kawan
tentang sekuntum mawar
gugur di puncak musim penghujan
tiada rintih tangisan
dan tawa tak terdengar
hanya diam
berharap kuncup ketegaran
rela melepas kepergian
tentang sekuntum mawar
gugur di puncak musim penghujan
tiada rintih tangisan
dan tawa tak terdengar
hanya diam
berharap kuncup ketegaran
rela melepas kepergian
Subscribe to:
Posts (Atom)