About Me
- Yoehan Rianto Prasetyo
- seorang guru, peminum kopi, pembaca buku yang suka berjalan kaki
Anda pengunjung ke:
Thursday, July 21, 2011
Friday, July 15, 2011
suatu (ketika) jumpa: kita
menjelang redup matahari dikota milikmu
kita masih berdiri di batas yang sama,
bersama mencari irama yang sama:
ku petik nada dari gitarku-kau bacakan sajak
seakan tumpah segala harap di hati masing-masing
tak ada yang bertanya
sebab kita telah lama mengerti:
warna pelangi tak kan terlihat lagi
tak perlu untuk selalu menanti
atau kita petik kuncup warna seruni,
lalu menebarkannya sekedar mengganti pelangi
agar langit tak terlihat sepi
kau, tetaplah membaca sajak
mengiringi matahari yang terkantuk-kantuk
akan kupetikkan nada hingga langit berhias bintang
sayang, biarlah sekedar kudengar kau bersajak
sembari kupandangi ramah senyummu dari jauh
kita masih berdiri di batas yang sama,
bersama mencari irama yang sama:
ku petik nada dari gitarku-kau bacakan sajak
seakan tumpah segala harap di hati masing-masing
tak ada yang bertanya
sebab kita telah lama mengerti:
warna pelangi tak kan terlihat lagi
tak perlu untuk selalu menanti
atau kita petik kuncup warna seruni,
lalu menebarkannya sekedar mengganti pelangi
agar langit tak terlihat sepi
kau, tetaplah membaca sajak
mengiringi matahari yang terkantuk-kantuk
akan kupetikkan nada hingga langit berhias bintang
sayang, biarlah sekedar kudengar kau bersajak
sembari kupandangi ramah senyummu dari jauh
Wednesday, July 13, 2011
sajak dari lereng gunung
selembar daun telah gugur
pertanda musim kian renta
kita duduk mengawasi kabut mendung
perlahan menutup kota diam,
perlahan pula kita sadari akan suatu ketika,
suatu ketika yang telah lama kita kenal:
kau menghimpun ranting-aku menulis sajak
hening kita diam tanpa tegur sapa
~ketika itu, kau ada dimana?
Aku sedang coba menyusup dalam otak dan hatimu
tapi, kita tetap saja diam
lembayung senja berwarna merah
masih juga kita awasi mendung yang perlahan turun
didepan sana kota diam~mungkin sedang basah,
hujan senantiasa menyiram
kita tetap diam
hanya sajak bercerita
tentang hati yang karam
pertanda musim kian renta
kita duduk mengawasi kabut mendung
perlahan menutup kota diam,
perlahan pula kita sadari akan suatu ketika,
suatu ketika yang telah lama kita kenal:
kau menghimpun ranting-aku menulis sajak
hening kita diam tanpa tegur sapa
~ketika itu, kau ada dimana?
Aku sedang coba menyusup dalam otak dan hatimu
tapi, kita tetap saja diam
lembayung senja berwarna merah
masih juga kita awasi mendung yang perlahan turun
didepan sana kota diam~mungkin sedang basah,
hujan senantiasa menyiram
kita tetap diam
hanya sajak bercerita
tentang hati yang karam
Monday, July 11, 2011
hanya aku
Subscribe to:
Posts (Atom)
