ada cangkir, hampir kering sisa semalam, terjaga berlama-lama cari jawab pada heningnya sepetak ruang, tempat berawal segala perjalanan. Diam.
ada asbak, meski bertumpuk rusuh tapi ia harus ada, agar tidak ada yang tercecer
ada dasi, terkapar atau memang sengaja dibuang karena tak begitu dimengerti: sejak jaman kolonial, simbol-simbol jadi awal dan alasan untuk berperang, kini dikenakan, sepertinya akrab dengan kekalahan
ada piring, diatasnya ada beberapa lembar adonan tepung yang mengering, untuk hidangan beberapa hari kedepan, kini tinggal beberapa lembar. Ada kenangan, tentang menu favorit diatas meja makan yang kini hilang satu persatu dimakan keadaan.
ada harapan, tak lagi menganggap mimpi sebagai hal yang menakutkan
ada sarang laba-laba, menggantung penuh misteri tanpa penghuni
ada setumpuk catatan, sisa pertengkaran: Do'a, keluh kesah, amarah dan umpatan.
ada senyum (milikmu) membayang bikin suasana lebih tenang
ada bendera, terlipat rapi diatas almari, sekedar jadi bumbu penyedap nasionalisme yang sering terlupa
ada imaji, nanti, ketika aku mati jasadku hilang tak ada yang mengenang, hanya lewat sajakku ini, orang jadi mengerti: namamu tak pernah letih kucari-cari
About Me
- Yoehan Rianto Prasetyo
- seorang guru, peminum kopi, pembaca buku yang suka berjalan kaki
Anda pengunjung ke:
Thursday, December 27, 2012
Friday, November 30, 2012
suka-suka kamu
ini aku
boleh kau bakar hingga jadi abu
atau kita bisa duduk tenang
berbicara tentang yang patut dibicarakan
boleh kau sayat hingga berdarah-darah
atau kita bisa bercengkrama
nikmati kehangatan yang ada
boleh kau injak hingga rata dengan tanah
atau kita bisa bersantai di pantai
sembari nyalakan unggun sama-sama,
kalau kau suka
nanti kita juga bisa main halma
boleh kau hujat hingga benar-benar hina
atau kita bisa saling tukar sajak
pada hari paling istimewa
ini aku
manusia yang sama
atau memang kau ingin?
Sebagaimana yang lain ingini?
Aku jadi sampah yang tak layak,
tempat segala umpatan-hinaan
dan kecurigaan
serta tuduhan yang tak mendasar?
SILAHKAN SAJA
...
... ...
... ... ...
"merdeka"
boleh kau bakar hingga jadi abu
atau kita bisa duduk tenang
berbicara tentang yang patut dibicarakan
boleh kau sayat hingga berdarah-darah
atau kita bisa bercengkrama
nikmati kehangatan yang ada
boleh kau injak hingga rata dengan tanah
atau kita bisa bersantai di pantai
sembari nyalakan unggun sama-sama,
kalau kau suka
nanti kita juga bisa main halma
boleh kau hujat hingga benar-benar hina
atau kita bisa saling tukar sajak
pada hari paling istimewa
ini aku
manusia yang sama
atau memang kau ingin?
Sebagaimana yang lain ingini?
Aku jadi sampah yang tak layak,
tempat segala umpatan-hinaan
dan kecurigaan
serta tuduhan yang tak mendasar?
SILAHKAN SAJA
...
... ...
... ... ...
"merdeka"
Monday, November 26, 2012
yang patah ini hatiku
I
yang patah ini hatiku
menggelepar dalam sunyi
kenyataan memang perlunya buat dilawan
tapi malah tambah hancur
jadi tempat segala dikubur:
caci maki
juga kecemburuan yang sepi
kata orang "patah tumbuh hilang berganti"
tapi tetap saja terkurung sunyi
dan... siapa juga yang peduli
biar kurawat sendiri
hingga nanti
ketika ia harus kembali
tentu, kepada Ilahi Robbi
II
yang patah ini hatiku
tiada yang tahu
mulut kubiarkan membisu
sembari nonton tingkahmu
~ah, sepertinya aku pernah cemburu
biarlah
nanti juga muncul episod yang baru:
tentang kau
atau
aku harus nulis judul sajak yang baru
III
sekali ini kudapati
kidung sunyi dari dalam hati
sakit ini jadi milik sendiri
kuyakini itu
sambil kata
"Tuhan tidak bersalah akan ini"
sebab
yang patah ini hatiku
biar kurawat sendiri
kalau sudah pulih
aku kembalikan
kepada Tuhan
IV
yang patah ini hatiku
demikian berkali-kali
entah kapan berhenti
yang patah ini hatiku
menggelepar dalam sunyi
kenyataan memang perlunya buat dilawan
tapi malah tambah hancur
jadi tempat segala dikubur:
caci maki
juga kecemburuan yang sepi
kata orang "patah tumbuh hilang berganti"
tapi tetap saja terkurung sunyi
dan... siapa juga yang peduli
biar kurawat sendiri
hingga nanti
ketika ia harus kembali
tentu, kepada Ilahi Robbi
II
yang patah ini hatiku
tiada yang tahu
mulut kubiarkan membisu
sembari nonton tingkahmu
~ah, sepertinya aku pernah cemburu
biarlah
nanti juga muncul episod yang baru:
tentang kau
atau
aku harus nulis judul sajak yang baru
III
sekali ini kudapati
kidung sunyi dari dalam hati
sakit ini jadi milik sendiri
kuyakini itu
sambil kata
"Tuhan tidak bersalah akan ini"
sebab
yang patah ini hatiku
biar kurawat sendiri
kalau sudah pulih
aku kembalikan
kepada Tuhan
IV
yang patah ini hatiku
demikian berkali-kali
entah kapan berhenti
Sunday, November 25, 2012
obrolan pada suatu malam: tentang kemanusiaan
pada malam,
meraba ketabahan
rayakan kesabaran
tafsirkan kemanusiaan:
meraba ketabahan
rayakan kesabaran
tafsirkan kemanusiaan:
dari tanah,
tanah
yang kau ludahi
kau injak dan kau kotori
tanah
tempat segala tumbuh-berawal
juga jadi tempat
nanti
ketika raga kembali ditanam
tanah
yang kau ludahi
kau injak dan kau kotori
tanah
tempat segala tumbuh-berawal
juga jadi tempat
nanti
ketika raga kembali ditanam
Subscribe to:
Posts (Atom)