aku merindu
ketika rembulan menyulam cahaya
dan do'a-do'a melantun khusyuk
merayap disela-sela keheningan puncak malam
wajah terbasuh wudlu betapa kurindu
dan hijabmu~semoga, jadi benteng yang tak rapuh
About Me
- Yoehan Rianto Prasetyo
- seorang guru, peminum kopi, pembaca buku yang suka berjalan kaki
Anda pengunjung ke:
Saturday, May 7, 2011
Sunday, May 1, 2011
sedikit patah hati
apalah untungnya memberiku rasa sakit
adakah kepuasan hati tuan-nona
saat diri mulai menggelepar?
sedang sayat kata dari mulut tuan
senyata belati tajam
tuan,
tentulah: kebijakan lelaki ada
dalam meredam kata
bukan atas sindir agar lawan terluka
nona,
hampir-hampir hina diri dimata nona
sedang diri tiada menduga:
betapa kini
diri jadi pihak yang salah
tapi,
apalah untungnya memberi diri rasa sakit
bila fana tiada kekal adanya
Saturday, April 23, 2011
sepotong sajak rindu
bagaimana dapat kuterjemahkan rindu dalam sepi
sedang tak ku temukan cinta dalam ruang kata
pada siapa yang pernah tawarkan rindu
kini, aku hanya berpegang cemburu
dibaris cahaya mbulan
aku kenangkan senyum sapamu
sambil kutitipkan rindu
harap kelak mampu kupandang parasmu
sedang tak ku temukan cinta dalam ruang kata
pada siapa yang pernah tawarkan rindu
kini, aku hanya berpegang cemburu
dibaris cahaya mbulan
aku kenangkan senyum sapamu
sambil kutitipkan rindu
harap kelak mampu kupandang parasmu
hening itu bising
kau diam (hening, hanya hati bersuara) matahari meninggi
sungai-sungai tetap mengalir
aku diam (mendengar, coba tuk mengenal) mendung tersibak
ada semacam tawa-riuh (tetap saja membeku)
kita diam tak banyak berkata: hanya beradu pandang
(sunyi-beku) tercipta bising dalam hening
sungai-sungai tetap mengalir
aku diam (mendengar, coba tuk mengenal) mendung tersibak
ada semacam tawa-riuh (tetap saja membeku)
kita diam tak banyak berkata: hanya beradu pandang
(sunyi-beku) tercipta bising dalam hening
Subscribe to:
Posts (Atom)