orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya (Pramoedya Ananta Toer)

About Me

My photo
seorang guru, peminum kopi, pembaca buku yang suka berjalan kaki

Anda pengunjung ke:

Sunday, November 25, 2012

obrolan pada suatu malam: tentang kemanusiaan

pada malam,
meraba ketabahan
rayakan kesabaran
tafsirkan kemanusiaan:
dari tanah,
tanah
yang kau ludahi
kau injak dan kau kotori

tanah
tempat segala tumbuh-berawal
juga jadi tempat
nanti
ketika raga kembali ditanam

Thursday, November 22, 2012

Kepada cahaya

mendung sayang
rintik hujan juga tak henti

tadi
hangat sebentar
lalu mendung berarak datang
aku masih disini

kau cahaya
hangat menyapa
kau bintang
berpijar untuk sang malam
kau mentari
hadirkan yang terang-nyata

tetaplah terang
agar dunia tiada gelap-beku

jangan datang,
(jika) bersamaku
kau redup-hilang
tetaplah
benderang
tetaplah jadi penerang
~penuntun langkah
agar tak hilang arah

mendung sayang
rintik hujan juga tiada henti
aku masih disini,
berpikir:
setelah cahaya
entah apa

...
... ...
... ... ...
"merdeka!"

(kepada Cahaya, dariku: seorang lelaki bermata kabut)

Tuesday, November 20, 2012

obrolan tentang keadaan (kita... materialist)

mungkin sekedar keadaan
tidak pernah sekalipun
~dari awal jumpa yang lalu,
kita bentangkan pikiran
menantang kenyataan


hampir selalu tentang keadaan
yang mempengaruhi pikiran
sedang harapan redup-hambar
tanpa pernah ada kemauan
untuk melawan

kemana perginya gagasan?
Segala mengalir seakan tanpa kesadaran,
atau hanya sekedar ketakutan:
ragu untuk mampu mengatasi keadaan

Monday, November 19, 2012

obrolan

selarut ini kita bertemu diatas tanah merdeka
hampir tanpa kedaulatan kita bentangkan cita dan harapan

kau sampirkan surbanmu sekenanya
sangat sederhana kita maknai gelapnya malam
kita memang jalanan
jelata yang bukan rongsokan

tetes hujan pertama tadi milik bersama
hingga nanti,
ketika ia mengisi gelas-cangkir
yang entah milik siapa

kita kenangkan malam ini
Tan Malaka
H.M Misbach
juga Marsinah

hadirkan seluruhnya
juga dengan Hatta, Sjahrir dan H. Agus salim
jangan lupa ajak orator kita
Soekarno
lalu kita berbincang lama-lama
sambil nunggu
kabut datang gantikan duka
sebab hujan sudah mulai reda

kabut datang
kita menghambur-hilang
sebab, esok pagi kita musti kembali
berbaur dengan debu
diantara para tertindas
menyobek catatan-catatan sejarah
biar akrab melekat diotak mereka

kau pakai surbanmu sekenanya
kepadamu kuberikan nada
dan syair penuh harapan
nanti kita nyanyi sama-sama
ketika Indonesia benar-benar telah merdeka